by

MAKI: 126 Milyar Dana Hibah P-APBD 1 Disnak Jatim, Luar Biasa

SIDOARJO – Dalam kaitan permasalah Sahat Tua Simanjuntak terkait ijon hibah, LS MAKI Koorwil Jatim sangat kaget ketika mengetahui bahwa ada hibah yang dikelola Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur dalam P-APBD 1 tahun 2022 sejumlah Rp 126 milyar, di mana hibah tersebut peruntukannya, pertama, Rp 50 milyar untuk obat-obatan, kedua Rp 50 milyar untuk sarana/prasarana dan ketiga sisanya untuk pengadaan ternak sapi di Jawa Timur.

Dikatakan oleh Heru Satriyo, Ketua LSM MAKI Koorwil Jatim, hibah Disnak tersebut menjadi sorotan utama MAKI Jatim karena hibah itu ditengarai adalah hibah aspirasi dari DPRD Jawa Timur,  sehingga MAKI Jatim mencoba melakukan penelusuran terkait masalah aplikasi hibah itu.

“Karena seperti kita ketahui dalam P-APBD rentang waktunya hanya efektif dua bulan, ditambah lagi ada fakta mengejutkan bahwa pelaksanaan hibah itu dilakukan untuk obat-obatan dan sarana/prasarana dilakukan awal Desember dan untuk ternak via e katalog pertengahan Desember. Ini semakin timbul pertanyaan besar mengapa harus menunggu sampai Desember?” kata Heru Satriyo.

Dari penelusuran MAKI Jatim Bidang Litbang dan Investigasi untuk ternak sapi, ditengarai adanya sebuah pemufakatan jahat antara anggota DPRD Jawa Timur dengan Disnak, artinya ada kongkalikong.

“Temuan awal MAKI di mana pihak anggota dewan yang mendapatkan aspirasi lewat hibah ternak itu mencoba kerja sendiri dengan pinjam CV peserta e katalog pengadaan sapinya. Itu awal dari investigasi,” kata Heru Satriyo.

Semakin menarik karena hadirnya e katalog lokal di mana sistem e katalog lokal hanya bisa diakses oleh rekanan penyedia yang sudah terdata dalam SIKAP, sehingga rekanan penyedia sapi seenaknya masuk dalam sistem tersebut dengan memajang sapinya tanpa ada filterisasi harga, filterisasi spesifikasi dan tanpa adanya filterisasi seperti layaknya e katalog pusat dari LKPB

MAKI Jatim juga tengarai ada hal yang aneh ketika program dana hibah Rp 126 milyar itu pengelolaannya internal Disnak diserahkan kepada Sekretaris Dinas Peternakan Prov. Jatim, artinya bidang kesekretariatan bukan bidang teknis terkait

“Semakin lucu. Ambil contoh seperti obat harus dikelola atau diserahkan ke Bidang Inseminasi Buatan (IB) Dinas Peternakan Jawa Timur, sapi diserahkan ke bidang BP4, tapi ini semua dikangkangi oleh Sekretaris Dinas Peternakan Jawa Timur, di mana kalau bicarakan kesekretariatan dan bidang BPAB Disnak Jatim hanya bicara dalam konteks pemasaran, tidak bicara dalam ranah teknis,” kata Heru.

Ditambah fakta yang semakin mengejutkan bahwa vaksin PMK ternuata masih sangat banyak, dan masih banyak ditemukan sapi yang kena virus PMK. “Semakin mengagetkan lagi karena vaksin PMK bukan satu-satunya atau bukan menjadi dasar legitimasi bahwa apabila sapi yang sudah disuntik oleh vaksin PMK maka sapi tersebut jadi bebas dari PMK, kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan kami temukan fakta bahwa di Kabupaten Sidoarjo ada sapi yang sudah vaksin PMK dua kali masih kena PMK, artinya inilah realita fakta yang mengiringi hibah Rp 125 milyar yang dikeloma Sekretaris Dinas Peternakan Jatim ini semakin runyam.

“Kami acungi jempul Disnak Jatim yang masih mau melaksanakan itu. Kami duga mereka juga sadar bahwa akan masuk ke dalam jurang yang tidak dikehendaki bersama. Maka dari itu MAKI akan merilis terus yang berkaitan dengan pelaksanaan hibah tersebut,” tandas Heru.(bud)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed