by

Jatim Dilanda PMK, Heru MAKI: Bukti Ketidak-mampuan Kadisnak Jatim dalam Penanganan Kesehatan Hewan Ternak

SIDOARJO – Habis Covid-19, beredarlah penyakit mulut dan kuku (PMK). Kali ini yang diserang bukan manusia, tapi hewan ternak. Hampir ribuan hewan ternak di Jawa Timur diserang PMK.

Penyakit ini disebut menyebar lewat lendir dan angin, menyerang sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, dan babi dengan tingkat penularan mencapai 90-100 persen.

Hewan ternak yang terjangkit PMK memiliki tanda klinis seperti demam tinggi, mulai 39 hingga 40 derajat celsius, keluar lendir berlebihan dari mulut hewan, dan berbusa.

Selain itu, terdapat luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, luka pada kaku dan diakhiri lepasnya kuku, kaki pincang, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, hingga kurus.

Saat ini, penyakit tersebut telah ditemukan di empat kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Penyakit menular ini menyerang sekitar 1.600 ekor ternak sapi di Kabupaten Gresik, Lamongan, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Salah satu peternak di Lamongan, H Supar menceritakan penyakit yang menyerang salah satu sapi yang dibelinya di pasar. Akhirnya, penyakit itu menular ke 53 sapi miliknya yang lain hingga menunjukkan gejala khusus.

“Gejala awalnya seperti pincang, terus seperti keluar lendir berlebihan dari mulut disertai busa, terdapat pula luka-luka menyerupai sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak makan, luka pada kaki dan disusul kuku mengelupas,” jelas Supar mengungkap gejala awal yang dialami hewan ternaknya, dikutip dari detikJatim.

Menghadapi PMK, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, langsung bertindak cepat. Setelah tanggal 5 Mei 2022 secara resmi terkonfirmasi hasil lab Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA) Gubernur langsung gerak cepat.

Tanggal 6 Mei mulai pagi secara maraton Gubernur Khofifah melaksanakan rakor intensif dengan instansi terkait, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) para direktur, tim Kemenko Perekonomian, lengkap dengan empat Bupati yang terjangkit wabah, yaitu Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Lamongan serta kalangan kampus khususnya FKH UNAIR serta instiusi lain pemerintah pusat, pada Jumat (6/5/2022).

Rakor khusus maraton digelar guna merumuskan langkah komprehensif penghentian penularan PMK pada hewan ternak agar tidak meluas ke daerah lain. Sebagaimana diketahui, telah ditemukan kasus PMK di empat kabupaten di Jatim yaitu Kabupaten Lamongan, Mojokerto, Gresik dan Sidoarjo.

Melihat fenomena di atas Heru Satriyo, Ketua LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koorwil Jawa Timur, ikut prihatin atas menyebarnya PMK tersebut. Terlebih Provinsi Jawa Timur selama ini dikenal sebagai sentra daging nasional.

Di sisi lain Heru melihat, menyebarnya PMK tidak terlepas dari lemahnya pengawasan dan kontrol kesehatan ternak hewan di Jawa Timur.

“Ini menunjukkan ketidak mampuan Kepala Dinas Peternakan Prov. Jatim dalam penanganan masalah kesehatan hewan ternak, khususnya PMK,” kata Heru MAKI—sapaan akrab Heru Satriyo.

Menyebarnya PMK juga membuktikan keengganan Kadisnak Jatim dalam hal kesehatan hewan, lalu berdalih di balik ketidak adanya anggaran, padahal kita sentra produsen daging nasional,” kata Heru MAKI.(bud).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed