by

Terkait Menyamakan Adzan dengan Gonggongan Anjing, LSM MAKI akan Datangi Depag Jatim

SIDOARJO – Berkenaan maraknya pemberitaan terkait statemen Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, saat diwawancarai real oleh media, terkait masalah regulasi penggunaan “TOA” tidak boleh melebihi 100 dcb dan menyamakan bisingnya suara adzan lewat TOA dengan apabila anjing menggonggong, kami dari LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur, juga merasa sangat terusik untuk ikut menyuarakan dengan lantang.

“Pertama yang harus saya sampaikan dan harus digaris-bawahi sama media, bahwa statemen Menag tersebut disampaikan dalam suasana yang santai dan terstruktur tanpa ada emosional psikis statenent voice di dalamnya. Artinya, apa yang disampaikan Menag memamg sudah dipikirkan terlebih dahulu,” ungkap Heru Satriyo, Ketua LSM MAKI Koorwil Jawa Timur.

Hal ini jelas dan semua masyarakat bisa melihat langsung dalam tayangan YouTube. “Saya Muslim dan ratusan pengurus serta ribuan anggota MAKI Jatim 80% juga Muslim, dan kami juga terhenyak serta kaget ketika melihat dan mendengarkan statemen Menag tersebut,” kata Heru Satriyo. “Kalau sekarang disampaikan bahwa ada upaya untuk menggoreng statemen Menag tersebut, timbul pertanyaan, apanya yang digoreng?” ungkap Heru Satriyo.

MAKI Jatim malah melihat paradigma aneh dari statmen Menag tersebut. Keanehan yang muncul apabila dipelajari dan sama-sama melihat dan mendengar adalah seorang Menteri Agama dengan berbagai kesibukannya malah sibuk komentar terkait TOA yang merupakan barang pabrikan  juga.

“Ini ada apa sebenarnya? Bahwa kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama sangatlah kerdil apabila kita ukur parameternya lewat TOA, tidak ada hubungananya,” kata Heru Satriyo dengan tersenyum.

Dalam kaitan ini secepatnya MAKI Jatim akan mendatangi Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur untuk mempertanyakan bagaimana statemen dari Menag tersebut? Dan bagaimana langkah aktualisasi Kanwil Kemenag Jatim menyikapi hal tersebut.

“Kami akan mendatangi Kepala Kanwil Kemenag Jatim secepatnya, karena masalah ini harus tuntas penanganannya dan MAKI Jatim juga akan meminta Bapak Presiden RI untuk memberikan atensi terkait hal tersebut,” pungkas Heru Satriyo.

MAKI Jatim juga meminta dukungan kepada Banser yang merupakan organ fungsional NU untuk berperan aktif menetralisir pemberitaan tersebut dengan sama-sama meminta penjelasan kepada Menteri Agama RI.

“Kami memahami dan kami ikut bereaksi karena bukan hanya sekali ini saja Bapak Menteri Agama kita melakukan statemen yang berujung kepada keresahan masyarakat, tetapi sudah kesekian kalinya. Harusnya organisasi Islam terbesar, NU, juga meminta klarifikasi. Begitu juga MUI. Karena tidak ada orang kuat di Bumi Pertiwi ini, dan jangan lupa sejarah akan mencatat itu,” pungkas Heru menutup statemen.(bud)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed