by

Waspada Karhutla, Dr. Ir. Jumadi, MMT: Saya Ndak Deg-degan

Belum sepekan menempati pos jabatan barunya sebagai Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Dr.Ir.Jumadi, M.MT mengaku gelisah, didera rasa deg-degan. Kenapa?

“Kini sudah musim kemarau, tentu kami waspada terhadap kemungkinan terjadinya Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo lagi,” ujar Jumadi kepada MAKINews.id, Senin (16/8/2021).

Itulah sebabnya, ia meminta anak buahnya di UPT Tahura R Soerjo untuk siaga penuh melakukan pemantauan dan pengendalian di lokasi masing-masing. Pelaporan berkala diminta intensif.

Heru Satriyo mewawancarai Dr. Ir. Jumadi, MMT

“Kalau kebetulah hujan, alhamdulillah. Pokoknya kalau hujan di musim kemarau ini ya kami bersyukur. Saya ndak deg-degan lagilah. Karena tahun lalu hutan di Gunung Arjuno dan Welirang terjadi kebakaran. Tapi, sekali lagi alhamdulillah, sekarang belum ada,” ungkap mantan Asisten Ekbang Pemprov Jatim.

Informasi di Dishut Jatim menyebut, kebakaran hutan yang terjadi di Jatim dalam jangka waktu tiga tahun terakhir terinci: Pada 2018 terjadi kebakaran hutan seluas 6.967,70 Ha (0,51 persen), lalu pada 2019 kebakaran hutan meluas menjadi 7.550,09 Ha (0,55 persen), dan tahun 2020 kebakaran hutan menurun menjadi 940,14 Ha (0,07 persen).

Kebakaran hutan pada 2020 jauh lebih kecil luasannya dibandingkan dengan tahun 2019. Ini karena kondisi musim kemarau di tahun 2020 tidak terlalu lama. Dan, fakta bahwa kebakaran hutan setiap tahun selalu berubah. Luas kebakaran hutan di tahun sebelumnya tidak dapat dijadikan ukuran untuk memprediksi luas kebakaran hutan pada tahun ini, apalagi tahun depan.

Selain faktor dari cuaca atau iklim, faktor yang paling mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan adalah ulah tangan manusia. Bahkan menurut pengalaman para rimbawan, bahwa 99 % penyebab kebakaran hutan adalah faktor manusia.

Karena itulah Dishut Jatim merasa perlu melakukan antisipasi dan kesiap-siagaan dalam upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla secara terpadu. Tak terkecuali mengkampanyekan secara rutin pencegahan kebakaran hutan dan pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA) setiap tahun. Dan, kini sudah ada Surat Edaran Gubernur Jawa Timur kepada bupati/walikota se-Jatim terkait Peningkatan Kewaspadaan, Kesiap-siagaan dan Antisipasi Karhutla Musim Kemarau 2021.

Segmentasi konservasi

Ada dua segmentasi pekerjaan yang menjadi fokus Dishut jatim, yakni kerja yang output-nya segmen ekonomi dan konservasi. Pembicaraan tentang kewaspadaan Karhutla, menurut Jumadi, kini sangat kritikal karena masuk segmentasi pekerjaan konservasi. Itulah sebabnya ada imbauan kewaspadaan dari Menteri KLH Siti Nurbaya Bakar dan Mendagri Tito Karnavian, agar merapatkan barisan dengan instansi terkait untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan yang berada di bawah pengelolaan Dishut Jatim.

“Nilai pentingnya tentu karena menyangkut kelangsungan hidup manusia. Sehingga segmentasi tugas konservasi ini prioritas kami saat ini,” ujar Jumadi, yang sempat punya pengalaman sebagai Penjabat (pj) Sekdaprov Jatim dan Pelaksana Harian (Plh) Walikota Blitar ini.

Sementara segmentasi tugas ekonomi pada masa pandemi Covid-19, Dishut mengikuti apa pun kebijakan pemerintah pusat maupun daerah, seperti PPKM darurat, lalu PPKM level 4, 3, dan seterusnya. “Karena apa yang dikelola UPT di bawah Dishut, khususnya ruang wisata di kawasan Tahura R Soerjo, bukanlah masuk objek esensial dan kritikal, ya kita hentikan. Destinasi wisata tutup sementara, tidak menerima pengunjung,” katanya.

Namun di bidang layanan masyarakat tetap jalan, namun diatur sedemikian rupa hingga memenuhi aturan protkol kesehatan covid-19. (dur)

Uniknya Tahura Raden Soerjo


Daya tarik dari Tahura Raden Soerjo karena keunikannya. Luasan hutan yang menyebar di sejumlah kabupaten dan kota, namun beda wilayah kabupaten atau kota yang masuk ke dalam kawasan Tahura itu justru berbeda pula pesona keindahan destinasi yang disajikan.

Sebagai contoh, Tahura R Soerjo yang masuk ke Kabupaten Malang lebih terkenal dengan keindahan objek wisata air terjunnya. Namun secara umum, tema wisata Tahura R Soerjo menjadi daya tarik utama dari kawasan tersebut. Sehingga lokasi Tahura R Soerjo menjadi destinasi wisata alam populer di Jawa Timur.

Status Taman Hutan Raya, juga Kawasan Hutan Lindung atau Cagar Alam, memberikan nilai tambah bagi para pengunjung yang datang ke Tahura R Soerjo.
Bukan hanya sekedar hiburan wisata saja yang bisa didapat. Namun, nilai edukasi menjadi bonus wisata bagi setiap wisatawan.

Salah-satu fungsi Tahura diperuntukan sebagai khazanah riset, atau kebutuhan dunia pendidikan. Penetapan status Tahura tak lain karena kawasan hutan ini memiliki ciri dan atau pesona khusus. Kelestarian flora dan fauna, menjadi sebuah panorama edukasi yang mampu dirasakan langsung saat berada di Tahura R Soerjo.

Tahura R Soerjo ini merupakan kawasan pelestarian alam (KPA) yang berada dalam gugusan kompleks pegunungan Arjuno-Welirang-Anjasmoro. Wilayah Tahura ini secara administratif berada dalam wilayah Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Pasuruan dan Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

Dalam sejarahnya, kawasan Tahura R. Soerjo semula ditetapkan dengan Keputusan Presiden No. 29 tahun 1992 tanggal 20 Juni 1992 seluas ± 25.000 ha.Tahura ini meliputi kawasan hutan lindung Gunung Anjasmoro, Gunung Gede, Gunung. Biru, Gunung. Limas, seluas 20.000 ha, dan kawasan hutan Cagar Alam Arjuno-Lalijiwo sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian, Nomor: 250/Kpts/Um/5/1972 tanggal 25 Mei 1972 seluas 4.960 ha, serta tanah kebun penelitian Universitas Brawijaya seluas ±40 ha.

Penataan batas ulang dilakukan oleh Departemen Kehutanan pada tahun 1997, di mana luas kawasan hutan raya berkembang manjadi 27.868,30 Ha, dengan rincian luas: Kawasan Hutan Lindung 22.908,3 Ha, dan Kawasan Cagar Alam Arjuno-Lalijiwo seluas 4.960 Ha. Saat ini Tahura R Soerjo dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.

Keadaaan flora di Tahura R. Soeryo didominasi tumbuhan jenis : Cemara (Casuarina junghuniana), Saren (Toenasureni), Pasang (Quercus lincata), Kemlandingan gunung (Mycura javabica) dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti Padi-padian (Sarghum vitidumvakl).

Sementara fauna yang ada, antara lain Rusa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus muncak), Babi hutan (Sus srofa), Kera abu-abu (Macaca fascicuis), Macan tutul (Panthera pardus), Budeng (Presbytis cristata) dan berbagai jenis burung seperti Tekukur dan Kerenda.

Banyak sekali spot wisata yang bisa dikunjungi di Tahura R Soerjo, di antaranya :

Wisata Pendakian Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Pundak, Puncak Watu Jengger,
Pemandian Air Panas Cangar, Loka Wisata Surya, Panorama Patung Sewu, Air Terjun Kembar Watu Ondo, Sumber Air Panas Alami, Café Kopi Multifungsi, Spot Pertemuan dan Live Music, Camping Ground, Outbound, Terapi Kesehatan, Spot Selfie. (dur)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed