by

Wawancara Khusus HUT Ke-44 Dinas Perkebunan Prov. Jatim; Covid-19 dan Orang Tak Mau Berhenti Ngopi

SELAMA masa pandemi Covid-19 setidaknya muncul berulangkali berita hoax tentang “Kopi mampu tangkal Covid-19”. Sampai-sampai Kementerian Kominfo merasa perlu meluruskan postingan di media sosial (medsos) tersebut, pada 5 September 2020 lalu. Bahkan Menko Polhukam Mahfud MD sepekan lalu merilis 1.827 konten hoax atau fake news selama 23 Januari – 3 Agustus 2021. Termasuk konten perihal kopi penangkal virus corona yang muncul kembali pada 2021.

Tetapi ada sesuatu yang unik. Di era pandemi ini tidak ada orang yang mau berhenti ngopi. Fenomena unik itu ditangkap sebagai indikator, bahwa pasar kopi arabika maupun robusta produksi sejumlah perkebunan kopi di Jawa Timur (Jatim) tak ada matinya. Tak terdampak sama sekali oleh pandemi Covid-19.

Itulah sebabnya Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir. Karyadi, MM sempat berkelakar, ia justru senang ada broadcast yang viral tentang kebiasaan minum kopi yang konon bisa mencegah terinveksi virus corona. Sebab, berita palsu itu bisa memicu konsumsi kopi di masyarakat makin tinggi.

Imbasnya, kebutuhan kopi maupun coklat (kakau) tidak menurun saat pandemi ini. Sebaliknya, malah bisa naik. “Berita hoax-nya tentang kopi, tapi permintaan coklat juga ikut naik. Sebab dua hasil kebun, kopi dan coklat, ini sering disajikan bersamaan. Ini promosi bagi komoditas kakau, sehingga masyarakat jadi familiar minum coklat,” papar Karyadi kepada MAKINews.id, Senin (9/8/2021).

Sementara di pasar ekspor, harga komuditas kopi pada masa pandemic ini relatif stabil. Justru panen tahun ini, 2021, harga kopi arabika sangat tinggi. Tetapi kini agak menurun harganya karena situasi pasar. Sedangkan harga kopi robusta belum sesuai harapan. Karena produksi berlimpah, terus bersaing dengan produk di pasar global. “Tapi keseluruhan produksi kopi kita masih punya harapan,” tuturnya.

Berikut ini nukilan wawancara khusus Pemimpin Umum MAKINews.id, Heru Satrio bersama Ir. Karyadi, MM dalam suasana peringatan ke-44 HUT Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, 9 Agustus 2021 lalu.  

Sesi wawancara kali ini sangat spesial, karena bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Mewakili masyarakat Jawa Timur, kami ingin memperoleh informasi detail terkait bagaimana konsep perkebunan terutama di masa pandemi Covid-19 ini. Tapi pertama-tama kami ingin Pak Karyadi bisa menyampaikan pesan apa terkait peringatan HUT kali ini. Monggo…

Sesuai SK Gubernur Jawa Timur tertanggal 9 Agustus 1977, jadi usia Dinas Perkebunan sudah 44 tahun. Semula dinas yang saya pimpin ini masih merupakan bagian dari Dinas Pertanian, salah satu bidang di Dinas Pertanian itulah yang menjadi embrio berdirinya Dinas Perkebunan Jatim ini.

Bicara lingkup tugas dan fungsi pembinaan dunia perkebunan di Jatim, potensi perkebunan kita sangat luas. Terutama perusahaan besar ada 125 unit kebun yang semuanya tinggalan dari zaman Belanda. Ada yang dikelola BUMN, perusahaan daerah, juga dikelola swasta. Maka tugas kami di Dinas Perkebunan tak lain membina para petaninya. Potensi eksisting perkebunan di wilayah Jatim ada sekitar 10 juta hektar.

Dan kini, dalam situasi pandemi, tentu jumlah personel serasa dibatasi –ada yang WFH. Tetapi tugas ASN Perkebunan tetap menuntut tanggung-jawab besar. Karena itulah saya selalu menekankan agar para ASN kami tak lelah beriniovasi. Sekali lagi, mau tidak mau kita harus berinovasi. Kami punya komoditi unggulan, seperti tebu, tembakau, kopi, kakao, dan lainnya.

Bagaimana bapak melihat Peta berkebunan di Jatim pada masa pandemi ini. Dampaknya seperti apa, atau barangkali ada kiat-kiat khusus guna meminimalisir dampak pandemi terhadap kinerja kalangan petani dan kinerja perkebunan keseluruhan?

Pandemi dialami oleh kita semua. Kiomoditi perkebunan masih memiliki potensi untuk pasar yang baik. Peta komoditi perkebunan kita di Jatim masih cukup menjanjikan. Ekspor kopi masih bagus, tebu bagus juga. Pada tahun 2020, produksi gula masih 985 ribu ton. Sedangkan kebutuhan gula di Jatim hanya 450 ribu ton, jadi masih surplus. Tahun kemarin juga produksi tembakau masih di atas 100 ribu ton.

Pada masa pandemi ini kopi ekspornya masih baik. Harganya relatif stabil. Justru panen tahun ini, 2021, harga kopi arabika sangat tinggi, lalu agak menurun karena situasi pasar. Sedangkan harga kopi robusta belum sesuai yang kita harapkan. Karena produksi berlimpah, terus bersaing dengan produk luar negeri. Tapi keseluruhan produksi kopi kita masih punya harapan. Tapi uniknya itu tadi, di era pandemi ini tidak ada yang mau berhenti ngopi.

Jadi, produksi perkebunan sejauh ini tetap stabil. Permasalahan di dunia perkebunan justru iklim yang tidak bersahabat. Contoh tembakau, di bulan Mei dan Juni yang masih hujan, ini membuat khawatir petani tembakau. Padahal pasarnya sangat terbuka, harga tembakau secara internasional cukup tinggi.

Ada anekdot bahwa petani itu usianya sudah lanjut, sudah kaum manula. Bagaimana program Dinas Perkebunan agar mampu menggerakkan para generasi muda, para milenial, mau terjun ke sawah atau kebun, dan benar-benar menggelutinya. Sehingga kelak ada proses regenerasi sebagai petani maupun pekebun

Kami sudah ada program petani milenial. Mulai dua tahun lalu, kami adakan pelatihan yang bukan hanya untuk bapaknya selaku petani atau pekebun. Tapi untuk anak-anak mereka juga. Saya ingin anak-anak muda mencintai produk perkebunan. Satu contoh, saya paparkan bagaimana menanam, lalu memanen kopi. Mereka tidak tertarik.  Tetapi bagaimana cara mengolah produksi kopi sampai pemasarannya. Pokoknya di sektor hilirisasi.

Ketika para milenial senang main di hilir, maka secara alamiah mereka akan mencari tahu bagaimana kerja di hulunya. Budidaya di kebunnya. Sebab untuk mendapatkan produk yang baik di hilir, maka otomatis harus diperoleh produk di hulunya yang baik pula.

Oh ya, lalu?

Saya mulai membuka wawasan mereka justru pada proses hilirisasi produk-produk perkebunan. Bukannya tiba-tiba mengajak mereka ke kebun atau sawah, itu tidak menarik bagi rata-rata anak muda zaman sekarang. Kita ajak bicara bisnis, entrepreneur jualan minuman kopi, misalnya. Mereka akan fokus menggiling dan menyeduh kopi. Di fase ini sudah bicara taste (citarasa) kopi juga. Lalu perhatikan juga pelayanan dalam penjualan hingga memiliki konsumen setia. Kalau sudah senang di sektor hilir seperti ini, mereka akan berusaha mencari produk kopi yang baik. Itu adanya di kebun kopi. Mereka baru akan terjun langsung ke perkebunan kopi.

Apa pesan Bu Gubernur terhadap optimalisasi dunia perkebunan di Jawa Timur

Bu Gub ingin meningkatkan ekonomi kerakyatan. Sedang yang bisa menyentuh penduduk di pedesaan adalah tanaman kopi dan kakao. Karena itu beliau ingin mengembangkan besar-besaran kopi dan kakao. Jargon “Jatim Agro” melalui program tanam-petik-olah-kemas-jual, itu akan diterapkan di kopi dan kakao. Terutama di wilayah selatan Jatim, karena di kawasan sana sudah ada jalur lintas selatan. Tentu saja di daerah-daerah yang ada agroklimate untuk komoditi kopi dan kakaonya. Minimal kita sudah punya 13.000 hektar potensi tanaman kopi dan 15.000 hektar lainnya untuk tanaman kakao.

Kita memanfaatkan lereng-lereng gunung yang bisa dikembangkan untuk penanaman kopi arabika, selain juga kakao. Saya optimis dengan produksi kopi di Jawa Timur ke depan. Sebab kita memiliki lahan yang luas, mulai dari kawasan lereng Gunung Argopuro, Ijen, Raung, lalu kawasan BTS (Bromo, Tengger, Semeru), juga lereng Arjuno dan Willis. Sungguh ini sangat potensial makanya saya katakan peta perkebunan baik tahun kemarin dan tahun ini sangat stabil. Terlebih kita surplus produksi.

Ibu Gubernur ingin menciptakan Jatim memiliki keunggulan industri olahan makan dan minuman. Khususnya yang bersumber dari sektor perkebunan. Misalnya kakao (cokelat) dengan berbagai varian industri turunannya, juga kopi dengan berbagai varian rasa dan kemasannya.

Terakhir, apa pesan Pak Karyadi terhadap program Perkebunan Jatim yang akan datang ?

Siapa pun nanti yang memimpin Dinas Perkebunan, semoga fokus program besarnya tetap konsisten: Peningkatan hilirisasi. Kebutuhan atau konsumsi coklat di Indonesia sangat tinggi, sementara produksi kebun kakao relatif rendah. Maka untuk mengantisipasi itu pengembangan program hilirisasi produksi kakao terus kita lakukan. Motivasi kita adalah bagaimanapun kita kelola sendiri hasil itu. Tidak ada impor coklat dari luar.

Terakhir saya berpesan kepada seluruh petani kita untuk sama-sama berpikir lebih produktif. Karenanya kami akan membina kelompok-kelompok tani (Poktan) untuk bisa memproduksi kopi sendiri. Mengolah biji kopi menjadi bubuk siap saji. Selanjutnya petani juga menatap peluang industri warung kopi. Karena hasilnya jauh lebih besar ketimbang jualan produk setengah jadi berupa kopi bubuk. Apalagi sekedar jualan biji kopinya. (dur/feb)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *