by

Jatim Terkontraksi 0,44%, Pertanian Tetap Digdaya

-Berita-162 views

Wawancara Khusus Kadis Pertanian-KP Jatim

Sektor-sektor perekonomian seperti properti, perdagangan/jasa, pariwisata, perbankan hingga dunia finansial dibikin kelimpungan selama pandemi Covid-19. Tidak sedikit dunia usaha, korporasi hiingga kalangan UMKM yang gulung tikar. Efek berikutnya, tenaga kerja yang ter-PHK dan dirumahkan praktis kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Maka angka statistik jumlah pengangguran dan penduduk miskin baru menaik tajam.

Dan, ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 0,74 persen dan Jawa Timur (Jatim) juga terguncang 0,44 persen pada triwulan I 2021, ternyata sektor pertanian di provinsi bagian timur Pulau Jawa justru digdaya.

“Hampir semua komoditi tanaman pangan dan hortikultura malah mengalami surplus. Kecuali kedelai dan bawang putih saja yang minus. Tapi secara keseluruhan sektor pertanian di Jatim nyaris tak terdampak selama pandemi Covid-19,” ujar Dr. Ir. Hadi Sulistyo, MSi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, menjawab MAKINews.id, Rabu (4/8/2021).

Doktor Ilmu Administrasi lulusan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini memaparkan, pada saat pertumbuhan ekonomi Jatim terkontraksi 0,44 persen antara Januari-April 2021 lalu luas panen padi pada triwulan I 2021 itu mencapai 1,24 juta hektar. Sedangkan produksi padinya sebesar 5,61 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Sementara hitungan selama semester I 2021, hasil panen GKG mencapai 7,18 juta ton dan menghasilkan beras 4,66 juta ton. GKG tersebut dihasilkan dari lahan seluas 1,26 juta hektar. Sementara tingkat konsumsi Jatim sekitar 1,47 juta ton. Sehingga, selama semester I 2021, Jatim mengalami surplus produksi beras sebanyak 3,19 juta ton.

“Sepanjang semester I tahun ini, setiap bulan Jatim selalu surplus produksi beras. Kecuali produksi pada Januari saja yang sempat defisit,” ujar Hadi, yang juga alumnus Faperta Universitas Jember angkatan 1981 ini.

Pria kelahiran “Kota Suwar-Suwir” pada 15 November 1962, dan sempat sebentar menjabat Plh Bupati Jember ini berbicara panjang-lebar tentang dunia pertanian di wilayah Jatim. Ia juga menyinggung berbagai ikhtiar yang bisa menjamin ketersediaan pangan secara berkesinambungan, baik di sektor tanaman pangan dan hortikultura, peningkatan nilai tukar petani, memotivasi kalangan milenial agar familiar dan tak ragu menjadi petani.

“Para sarjana Pertanian, manfaatkan ilmu dari kampus untuk terjun ke sawah. Membangun sektor pertanian. Jangan bayangkan petani itu identik dengan kemiskinan. Terjun menjadi petani juga bisa kaya. Jangan menunggu cari kerjaan, ciptakanlah lapangan kerja di dunia pertanian,” papar Mas Sulis, sapaan akrab Hadi Sulistyo.

Berikut petikan wawancara eksklusif Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo yang dipandu langsung Pemimpin Umum MAKINews.id, Heru Satriyo :

Bagaimana kabarnya Pak Hadi Sulistyo ? Terima kasih, kami diterima di kantor Pak Kadis, yang meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk wawancara eksklusif ini.

Hadi Sulistyo

Alhamdulillah, baik. Semoga kita senantiasa sehat walafiat. Assalamualaikum, selamat siang, Pak Heru bersama kru dari MAKINews.id telah sambang ke sini. Mewawancarai saya khususnya terkait dunia pertanian, terima kasih kehadirannya.

Bagaimana mengemas program-program pembinaan –sementara jumlah petani di wilayah Jawa Timur sedemikian banyaknya, dimana mereka sebagai bagian dari masyarakat yang tak terhindarkan dari dampak pandemic Covid-19 ?

Perlu diketahui, sektor pertanian merupakan sektor yang tidak terpengaruh secara langsung dengan adanya wabah atau pandemi ini. Kalau sektor-sektor yang lain seperti dunia properti, perdagangan dan jasa, perbankan, hingga sektor finansial sejauh ini terdampak luar biasa. Tapi Alhamdulillah, Jawa Timur tetap memproduksi hasil-hasil pertanian dan di hampir semua komoditi kita surplus. Kecuali kedelai dan bawang putih.

Kemudian kalau melihat data, pada triwulan I 2021 saja [pertumbuhan ekonomi] sempat terkontraksi 0,44%. Namun dalam kondisi ini hasil pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan pertumbuhan yang meningkat.  Luas panen padi pada subround Januari-April 2021 mencapai 1,24 juta ha. Produksi padinya sebesar 5,61 juta ton GKG (Gabah Kering Giling). Begitu halnya komiditi lain, di luar kedelai dan bawang putih. Artinya, produksi pertanian kita tak pernah minus, baik pasca pandemi maupun sebelumnya.

Lalu bagaimana upaya peningkatan hasil pertanian demi ketahanan pangan di Jawa Timur, barangkali ada program-program stimulus sebagai pendorong produktivitas kalangan petani?

Kami selaku dinas pembina khususnya di lingkungan pertanian, Pemrov Jatim sudah lama melakukan upaya-upaya agar ketersediaan pangan terjaga sepanjang tahun. Baik pengembangan produksi tanaman pangan maupun hotikultura.

Ada dua pengembangan yang sudah jalan, yaitu: Pertama, di sektor tanaman pangan, yang meliputi kegiatan pengembangan kawasan serelia, kawasan aneka kacang, kawasan umbi, dan pengembangan penanganan pascapanen. Karena kita sekarang fokusnya ke hilir. Sebab kalau sektor hulu para petani sudah pinter. Baik fase tanam maupun pemupukan. Nah, yang di hilirnya yang perlu kita perhatikan, terutama pascapanen. Kita menggencarkan edukasi melalui penyuluh di lapangan.

Jangan lagi mereka menjual gabah! Tetapi bagaimana mereka diberi pemahaman melalui Gapoktan, agar menjual [sudah dalam wujud] beras. Oleh karenanya, Gapoktan-gapoktan yang sudah mampu silakan mendirikan usaha penggilingan padi/gabah atau rice milling unit (RMU), mesin pengering gabah (driyer), hingga alat pengemas (packaging)-nya. Jadi, Gapoktan nantinya bisa menjual beras medium maupun premium hasil panenan para petani yang tergabung dalam Gapoktan. Di situ ada nilai tambah, bisa meningkatkan penghasilan petani. Jadi, sudah pasti nilai tukar petani akan bertumbuh. 

Oleh karena itu kita lebih fokus lagi di sektor hilir, baik menyangkut tanaman pangan maupun hortikultura. Terlebih di hortikultura, masa masaknya kan terbatas, paling hanya seminggu. Kalau kita tidak pikirkan pascapanennya jelas akan busuk. Karena itulah kita berikan bantuan peralatan untuk pengolahan hasil panen buahnya.  

Kedua, kami perhatikan SOP dan GAP dari masing-masing kegiatan pengembangan di hortikultura. Good Agricultural Practices (GAP) ini penting, bahwa untuk meningkatkan nilai tambah harus ada SOP (Standard Operating Procedure). Ini semua menjadi acuan pelaksanaan kegiatan proses produksi, mulai dari pra tanam hingga pascapanen buah maupun sayur segar. Semisal buah-buahan. Sekalipun buah-buahan kita tidak untuk ekspor, tapi kita sudah persiapkan lahan untuk [budi daya] buah kualitas ekspor. Sehingga produksi buahnya akan berkualitas ekspor nantinya.

Menjadi pelajaran bahwa dunia pertanian identik dengan mereka yang sudah sepuh, para generasi tua. Bagaimana meningkatkan minat generasi muda dalam dunia pertanian?

Sementara ini kebanyakan memang petani kita di lapangan rata-rata usia 55 tahun ke atas. Namun kami dari Dinas Pertanian telah berkomunikasi serta berkordinasi dengan Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian di dalamnya. Kami mengajak para generasi milenial, khususnya mahasiswa smester akhir, agar mengubah mindset mereka terhadap dunia pertanian.

Motivasi kami: Jangan melihat bahwa menjadi petani bisa identi dengan kemiskinan. Namun sebaliknya, jika kita berani mengaplikasikan ilmu yang kita miliki dengan cara melakukan kerja sama dalam bidang pertanian, maka hasilnya akan berbeda. Generasi muda jangan berfikir bahwa setelah lulus itu untuk mencari kerja. Harus kita ubah pandangannya, para milenial harus menciptakan pekerjaan, membuka lapangan kerja.

Pesan khusus ibu Gubernur terkait pertanian terutama dalam masa pandemi seperti apa?

Kebetulan momennya sekarang memasuki musim kemarau, dan dalam masa pandemi ini kami -Dinas Pertanian Jatim, telah mengirim surat ke para kepala dinas di kabupaten/kota; Bagaimana caranya mengelola  benih-benih unggul yang bisa digunakan dalam musim kemarau secara optimal.

Kedua, bagaimana caranya segala bentuk hama penyakit pada tanaman pertanian bisa dideteksi sedini mungkin. Selanjutnya  kami tindaklanjuti dengan moniitoring turun ke lapangan guna melakukan evaluasi produksi. Dinas juga akan menyertakan penyuluhan untuk mendampingi para petani di lapangan secara berkala.

Porang

Ibu Gubernur menekankan jangan sampai ada lahan pertanian dibiarkan terlalu yang lama menganggur. Sebab, ‘lahan tidur’ itu nantinya berpengaruh terhadap hasil produksi padi di wilayah regional Jawa Timur.

Apa pesan Pak Kadis terhadap kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Bagaimana menjaga kesehatan, dan memaksimalkan peran petani memanfaatkan kondisi hawa (temperatur) yang sedang terjadi dalam pertanian ?

Saya selaku dinas membina, kepada petani selalu menyarankan untuk tetap memperhatikan protokol kesahatan meski kemudian aktifitas para petani kita di lapangan yang sehari-hari juga sering terpapar sinar matahari langsung secara alami. Ini akan meningkatan imunitas.

Secara kooperatif selalu melakukan koordinasi apabila terjadi masalah seperti serangan hama di sawah mereka, contohnya. Kami mesti turun lapangan, ikut menganalisis, mengontrol, mencatat kebutuhan serta memperbaiki jenis masalah yang terjadi. Kami juga membentuk UPT Proteksi yang sudah memiliki tenaga-tenaga ahli yang siap melayani di lapangan.

Saat ini Jawa Timur memiliki komoditas tanaman porang yang lagi transetter. Apa langkah Dinas Pertanian untuk menegaskan terkait program pemerintah supaya mengangkat tanaman porang menjadi komoditi ekspor ke depanya?

Memang kita ketahui bersama bahwa komoditi porang ini menjadi primadona baru di wilayah Jawa timur dan kebetulan komoditas porang ini baru masuk dalam wewenang pembinaan Dinas Pertanian pada tahun 2020 kemarin. Karena sebelumnya dipegang oleh Dinas Kehutanan. Khususnya di Kabupaten Madiun yang menjadi pioner untuk tanaman porang ini. Para petaninya sudah menanam di lahan Perhutani.

Kenapa ditanam di lahan Perhutani ? Sebab hasilnya ternyata lebih bagus karena ditanam di bawah tanaman tegakan milik Perhutani. Bisa juga ditanam di sawah namun hasilnya tidak begitu optimal.

Ibu Gubernur juga sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub), yang melarang ekspor bibit porang –biasa disebut “katak”. Kebijakan Gubernur, menurut saya langkah yang cekatan dalam menyikapi tataniaga produksi porang. Juga membatasi ekspor bibit porang. Sebab jika orang madiun ramai-ramai mengekspor benih atau bibit porang, maka tak lama lagi petani porng kita habislah, takkan menikmati apa-apa lagi. Dan, sesuai Pergub Jatim itu, yang diperbolehkan hanya ekspor chip atau beras porang.

Oleh karena adanya primadona baru, yakni produksi porang yang berlebih maka di Jawa Timur akan ada pabrik yang khusus menampung hasil produksi porang ini. Baik dalam kondisi porang basah, chip maupun beras. Rencananya pabrik porang itu akan diresmikan Presiden (Jokowi). Nantinya ini satu satunya pabrik porang dan terbesar di indonesia. Harapannya ke depan kita akan memproduksi chip porang sendiri dan akan mengurangi ekspor ke China. (feb/dur)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed